Mengenal K.H.R. As’ad Syamsul Arifin: Pahlawan Nasional dari Situbondo.

Hari Pahlawan bukan sekadar seremonial tahunan. Ini adalah momen refleksi untuk mengenang mereka yang telah mewakafkan jiwa dan raganya demi kemerdekaan Indonesia. Bagi masyarakat Jawa Timur, khususnya di wilayah “Tapal Kuda”, ada satu nama besar yang menjadi kebanggaan sekaligus teladan abadi: K.H.R. As’ad Syamsul Arifin, seorang Pahlawan Nasional dari Situbondo.

Mengenal sosok beliau bukan hanya tentang menghafal nama, melainkan memahami esensi perjuangan yang memadukan nilai keagamaan dan rasa cinta tanah air (nasionalisme).

Siapakah K.H.R. As’ad Syamsul Arifin?

Kiai As’ad, begitu beliau akrab disapa, adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2016. Gelar ini bukan tanpa alasan. Jejak perjuangan beliau terbentang panjang, mulai dari masa revolusi fisik hingga masa pembangunan karakter bangsa melalui penerimaan asas tunggal Pancasila.

Sebagai tokoh ulama karismatik, Kiai As’ad membuktikan bahwa santri dan pesantren adalah garda terdepan dalam mempertahankan kedaulatan negara.

Peran Vital dalam Pertempuran 10 November

Ketika berbicara tentang Hari Pahlawan, kita tidak bisa lepas dari peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Sejarah mencatat peran sentral Kiai As’ad dalam memobilisasi massa. Beliau adalah salah satu tokoh yang menggerakkan santri dan masyarakat Situbondo serta wilayah sekitarnya untuk berangkat ke Surabaya setelah keluarnya Resolusi Jihad yang dicetuskan oleh Hadratus Syekh K.H. Hasyim Asy’ari.

Kiai As’ad tidak hanya duduk memberikan komando dari jauh. Beliau memimpin langsung pasukan Pelopor, laskar hizbullah, dan sabilillah. Keberanian beliau di medan laga menjadi pembakar semangat para pejuang lain yang mungkin gentar menghadapi persenjataan lengkap Sekutu. Ini membuktikan bahwa Pahlawan Nasional dari Situbondo ini memiliki nyali yang luar biasa dalam membela harga diri bangsa.

Pengawal Pancasila dan Integritas NKRI

Perjuangan Kiai As’ad tidak berhenti setelah penjajah angkat kaki. Di era Orde Baru, ketika terjadi ketegangan mengenai ideologi negara, Kiai As’ad memainkan peran kunci yang sangat bijaksana. Beliau adalah ulama yang menjamin bahwa menerima Pancasila sebagai asas tunggal tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Keputusan beliau ini meredakan ketegangan antara umat Islam dan pemerintah kala itu. Pandangan visioner beliau menyelamatkan Indonesia dari potensi perpecahan ideologis. Beliau mengajarkan bahwa mencintai negara adalah sebagian dari iman (Hubbul Wathon Minal Iman).

Warisan Pendidikan di Situbondo

Selain angkat senjata dan berpolitik kebangsaan, warisan terbesar Kiai As’ad adalah di bidang pendidikan. Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo kini berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Indonesia. Dari lembaga inilah lahir ribuan alumni yang meneruskan semangat perjuangan beliau di berbagai bidang.

Peringatan Hari Pahlawan di Situbondo sebaiknya tidak hanya diisi dengan upacara, tetapi juga dengan menengok kembali lembaga-lembaga pendidikan yang telah beliau rintis. Mendukung pendidikan adalah cara modern untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan.

Meneladani Semangat Kiai As’ad

K.H.R. As’ad Syamsul Arifin adalah bukti nyata bahwa Situbondo melahirkan tokoh besar yang mengubah arah sejarah bangsa. Sebagai generasi penerus, tugas kita adalah merawat ingatan ini.

Mari jadikan Hari Pahlawan sebagai momentum untuk meneladani integritas, keberanian, dan keikhlasan beliau. Mengenal Pahlawan Nasional dari Situbondo ini adalah langkah awal untuk menumbuhkan rasa bangga dan cinta kita terhadap daerah serta bangsa Indonesia. Al-Fatihah untuk Kiai As’ad dan seluruh pahlawan bangsa.

Scroll to Top